Strategi Sepak Terjang Pesaing Dengan Coopetition

Anda pusing memikirkan sepak terjang pesaing? Jangan khawatir. Sudah banyak perusahaan internasional yang mensiasati kondisi itu dengan menghentikan 'permusuhan' dan memilih kerja sama strategis. Banyak pelaku bisnis mengalami rasa yang sama sebab Anda atau pelaku bisnis yang lain tentu khawatir kue pasarnya dimakan pesaing.

Hanya saja, yang ironis adalah, banyak pelaku bisnis menyikapi fenomena semacam itu seperti kebakaran jenggot. Lantas menggelar meeting, memanggil semua staf, lalu marah-marah dan meminta agar sepak terjang pesaing itu dilawan. Atau kalau bisa dihentikan. Kelakuan pesaing-apalagi yang agresif-mesti diwaspadai. Namun tidak benar kalau kemudian Anda mengikuti cara pesaing untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu sebaiknya segera hentikan respons Anda yang berlebihan.
Mengakhiri sikap memberi perhatian terhadap perilaku pesaing bukan pula ignorance. Apa yang dilakukan pesaing tetap mesti dicermati. Kenapa pesaing melakukan hal yang berbeda dengan yang Anda lakukan. Atau kenapa pesaing bisa lebih cepat menghasilkan sesuatu yang baru. Segala perilaku pesaing layak menjadi referensi sebab Anda dan pesaing berada di dalam komunitas atau habitat yang sama.
Namun, belakangan ini, dengan perubahan yang demikian dinamis, menyiasati pesaing dengan melahirkan produk-produk yang inovatif belum tentu berbuah pada keberhasilan. 'Berkelahi' dengan pesaing agaknya bukan lagi satu-satunya cara untuk bisa unggul sebab tuntutan zaman telah melahirkan suatu konsep menarik yang layak Anda renungkan, yakni 'berdamai' dengan pesaing alias melakukan coopetition.
Bekerjasama dengan pesaing telah menjelma menjadi suatu diktum baru yang diresapi oleh banyak perusahaan kelas internasional. Contohnya, perusahaan mobil asal Amerika Serikat bekerja sama atau menjalin kemitraan dengan perusahaan mobil Jepang. Padahal kedua pabrik mobil itu menggarap pasar yang sama. Tapi begitulah realitasnya. Zaman kini bekerja sama dengan pesaing merupakan alternatif strategi yang dianut oleh banyak pelaku bisnis dan ternyata hasilnya jauh lebih memuaskan ketimbang berkelahi secara telanjang.

Mirip aliansi
Konsep coopetition (asal kata competition) agak mirip dengan aliansi strategis. Serupa tapi tidak sama. Kalau aliansi strategis bisa saja dilakukan antara perusahaan yang berada dalam koridor bisnis berbeda. Namun coopetition lebih cenderung sebagai suatu kerja sama antara entitas bisnis yang bergerak di bidang serupa dan malah dengan pasar garapan yang relatif sama pula. Contoh coopetition yang paling kentara adalah seperti apa yang dilakukan dalam jagad perbankan. Bagaimana antarbank menggunakan ATM bersama, atau sebuah bank mengizinkan ATM-nya dipakai oleh nasabah dari bank lain. Selain itu, bagaimana pula sebuah bank rela berbagi sistem dengan bank lain untuk dipergunakan di bank tersebut. Meski terlihat seperti sinterklas, namun sebenarnya bank yang memberikan sistem tidak rugi apa-apa, tapi malah diuntungkan karena dengan sistem yang sama, kerja sama dan berbagai transaksi keuangan antarkedua bank akan lebih mudah dilakukan.
Implementasinya
Bagaimana implementasinya? Jelas, Anda mesti berhati-hati. Kendati coopetition merupakan tool strategi bisnis di masa kini, namun yang namanya bisnis tetap bisnis. Perusahaan yang cheating tetap saja ada. Dan kalau Anda tidak hati-hati, bisa saja perusahaan yang diajak melakukan kerja sama akan menusuk dari belakang. Jadi Anda mesti sangat selektif dalam menentukan mitra. Dalam konteks seleksi itu, perlu diperhatikan track record-nya. Kemudian, sejauh mana kedekatan pasar perusahaan Anda dengan mereka. Konkretnya begini. Meski Anda bersaing, sebenarnya target atau sasaran inti dari segmen pasar Anda tetap berbeda. Katakanlah Anda menjual consumer goods. Pasarnya adalah keluarga. Tetapi dalam kenyataannya, segmen utama produk Anda bisa jadi adalah para remaja, sedangkan target perusahaan pesaing adalah orang dewasa. Jika karakteristiknya seperti itu, Anda bisa mempertimbangkan melakukan coopetition dengan perusahaan tersebut. Lepas dari berbagai kemungkinan keuntungan yang diperoleh dari coopetition, jangan lupa, bahwa tidak ada kerja sama yang abadi. Yang ada adalah kesamaan kepentingan. Jargon ini bukan hanya dalam sektor politik, tetapi juga dalam dunia bisnis. Jadi tatkala Anda melakukan coopetition, harus sudah ada gambaran, berapa lama Anda lakukan hal tersebut dengan sebuah perusahaan pesaing. Kemudian, segala hak dan kewajiban mesti tertuang jelas dalam MOU (memorandum of understanding) atau perjanjian kerja sama. Sepanjang sifatnya masih win-win, Anda layak mempertimbangkan kelanjutan coopetition. Tapi kalau suatu ketika tidak ada lagi kesamaan kepentingan, jangan ragu, hentikan coopetition dengan perusahaan tersebut dan cari perusahaan lain. Jangan pernah lupa, business is business.

Tidak ada komentar: